Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Nurani Bergerak

Dari jauh kuhirup asap mesiu berarak

Membakar nurani membuat sesak

Merenggut nyawa ibu-ibu dan anak-anak

Di depan para pemimpin dunia yang diam tak bergerak

Hak asasi yang sering diusung dan diarak

Di bumi Gaza, tersungkur tercampak

Dikangkangi zionis congkak nan sengak

Dibantu kaki tangan yang pandai berlagak

Duhai nurani ayo bergerak

Disamping tengadah do’a mendongak

Agar anak-anak Gaza kembali riang bersorak

Dan ibu-ibunya tenteram menanak

Dan biar bunga-bunga taman rumahnya kembali harum semerbak

xmulya, Januari 2009

Guru Palestina

Saat tulisan ini dibuat, serangan brutal Israel ke wilayah Gaza Palestina telah memasuki hari ke 12. Dari darat, laut dan udara, Gaza dihujani tembakan dan dibombardir mortir. Melunakkah para pejuang Palestina ? menyerahkah mereka ?. Tidak. Dengan gagah perwira mereka tegar bertahan melawan bahkan mampu menawan dan menewaskan beberapa serdadu lawan. Subhanallah.
Terkait dengan bangsa Palestina, ada satu kenangan pribadi yang terngiang semakin kuat dalam pikiran dan perasaan saya saat-saat ini khususnya. Kenangan bulan Agustus setahun yang lalu di kota Nabi, Madinah al-Munawarah.
Salah satu harapan besar yang saya tuangkan dalam do’a-do’a saya menjelang dan selama umrah adalah agar Allah mengizinkan saya bertemu dengan orang Palestina di tanah suci. Ingin sekali rasanya menyampaikan kecintaan sebagian besar kita, kaum muslimin Indonesia dan do’a dukungan secara langsung kepada mereka, bangsa Palestina.
Hari kedua di Madinah, saat saya selesai membaca al-Qur’an antara waktu salat Maghrib dan Isya di masjid Nabawi, saya dikejutkan oleh sapaan lembut seorang laki-laki berumur kira-kira lima puluh tahun di sebelah saya. “Assalamu’alaikum, where are you from ?” tanyanya dalam bahasa Inggris sambil tersenyum. “ wa’alaikumussalam I’m from Indonesia, and you sir, where are you from “? Jawab saya balik bertanya. “I’m Syadi, from Palestine”. Deg…jantung saya berdegup lebih kuat dari biasanya. Desir aliran darah saya rasakan mengalir lebih cepat. Saya merinding. Saat itu jamaah yang banyak saya temui berasal dari Asia selatan terutama Pakistan dan Iran. Saya pun tak mungkin menanyakan jama’ah satu-satu apakah mereka berasal dari Palestina. Tetapi Allah Maha Berkehendak, do’a saya dikabulkan. Saya dipertemukan-Nya dengan orang Palestina. “ I’ve been waiting for this moment since I was in Indonesia (saya menunggu-nunggu momen ini sejak saya di Indonesia)” ujar saya membuka pembicaraan selanjutnya. “Oh..yea ?! “ timpalnya bereaksi. Saya lalu menyampaikan padanya tentang harapan dan do’a saya dan betapa kita sebagian besar kaum muslimin Indonesia mencintai bangsa Palestina dan mendukung perjuangan mereka. “ Subhanallah wal Hamdulillah” begitu jawabnya sambil sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya. “Oh by the way…what are you ? (ngomong-ngomong apa profesi anda?)” Tanyanya kepada saya. “I am a teacher”, jawab saya. Dia terkesiap. Badannya agak dicondongkan ke kanan menjauh sedikit dari arah saya. Pandangannya di arahkan kepada saya. Senyumnya kembali mengembang. Tangan kanannya lalu diletakkan ke dadanya sambil berkata , I’m a teacher too. Kami lalu tertawa kecil bersama-sama. Saat itu rasa syukur saya semakin bertambah saja. Allah tak henti memberi kejutan pada saya saat itu. Sudah dipertemukan dengan orang yang saya harapkan, eh… satu profesi pula. Dia lalu bercerita tentang aktivitasnya mendidik di al-Quds atau Jerusalem yang tak jauh dari masjidil Aqsha. Rumah beliau sendiri berada tidak jauh dari masjid suci itu. Hanya dua puluh menit berjalan kaki katanya. Saya kemudian menanyakan kabar terakhir saudara-saudara kita di Palestina. Dia sedikit menarik nafas. Kembali pandangannya di arahkan focus kepada saya. Sambil tersenyum dia menjawab. “We’re fine Alhamdulillah, bi idznillah”. Saya menangkap ada perasaan yang ditahannya. Tetapii beliau tetap menampakkan ketegaran. Kami lalu terlibat pembicaraan lain. Tentang ceritanya bahwa sehari sebelumnya dia baru saja berada di masjid al-Aqsha. Saya lalu menimpali bahwa mungkin besok dia akan salat di masjid al-haram, Mekkah. Dia menjawab bahwa dia masih akan menghabiskan beberapa hari di Madinah. Tak lama kemudian beliau meminta diri kepada saya. Sebenarnya saya ingin melanjutkan pembicaraan dan menjalin kontak selanjutnya tapi saya urungkan, mungkin ada keperluan beliau yang lebih penting. Saya lepas pak guru Syadi al-Filisthini dengan do’a agar Allah menolong dan memenangkan bangsa Palestina. Beliau mengaminkan dan mengucapkan terima kasih serta mengatakan kepada saya, kali ini dalam bahasa Arab, bahasa bangsanya dan karena dia juga tahu saya bisa mengerti, na’am Allah akbar min israil (Ya..Allah lebih besar daripada israel). Kami bersalaman. Sebelum berdiri, dia mengucapkan salam sambil tersenyum, senyum tulus ketegaran yang kerap kali tampak menghias wajahnya saat kami terlibat pembicaraan singkat bermakna itu. Perlahan-lahan tubuh besarnya hilang ditelan kerumunan jama’ah masjid Nabawi. Saya semakin mengerti kini mengapa pemuda-pemuda Palestina itu begitu tegar dan gigih berjuang. Ya…salah satunya karena mereka memilki guru-guru yang luar biasa. Seperti pak Syadi.

Halo dunia!

Assalamu’alaikum wr.wb.

Akhirnya…tahun ini, hari ini satu lagi pilihan telah saya tentukan.  Nge blog.  Tidak ada harapan lain kecuali ingin menyerap makna menjemput cahaya ; cahaya pengetahuan, cahaya pikiran, cahaya perasaan dan cahaya pengalaman…dari anda hingga jalan hidup yang terbentang menjadi lebih terang.  Terima kasih untuk “kakak” sekaligus guru saya, Abu Urwah Usmani yang telah mendorong saya mengikuti jejaknya berenang di lautan hikmah dan samudra kearifan ini (mudah-mudahan).

Terima Kasih

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.